Selasa, 24 Maret 2015

MENYIKAPI KENIKMATAN DAN KEPEDIHAN



Kehidupan layaknya sebuah perjalanan. Layaknya sedang berpergian, dalam kehidupan kita bisa menemukan berbagai macam peristiwa baik yang terjadi pada orang lain maupun yang dialami oleh diri sendiri. Entah itu senang, maupun sedih. Anugrah ataupun musibah. Kenikmatan atau kepedihan. Uniknya, setiap orang memiliki cara tersendiri dalam menyikapi setiap peristiwa yang datang dalam kehidupannya, baik yang berupa kenikmatan maupun dalam bentuk kepedihan. Misalnya saja, tatkala kita menjumpai ada orang yang meratapi kesedihan, membelenggukan dirinya kepada kepedihan yang tak berujung. Sebaliknya, kita juga melihat seseorang yang mendapatkan kepedihan yang sama besarnya dengan orang sebelumnya, tetapi menjadikan sholat dan sabar sebagai penolongnya. Berusaha untuk tegar seraya memohon pertolongan kepada Rabbnya. Brgitu juga dengan kenikmatan. Ada yang menyikapi kenikmatan  yang Allah berikan kepadanya dengan cara menyalurkan kepada sesuatu yang sia – sia bahkan sesuatu yang mendatangkan kemurkaan Allah swt. Tetapi ada juga yang menghadapi kenikmatan itu dengan rasa syukur serta rasa was – was agar tak terlena dengan kenikmatan tersebut sehingga melupakan Allah swt.
Bagaimana seseorang menyikapi setiap kenikmatan dan kepedihan yang datang silih berganti dalam kehidupannya, tergantung seberapa besar pemahaman orang tersebut mengenai hakikat kehidupan didunia. Apabila ia menganggap kehidupan itu hanyalah kehidupan di dunia ini saja, maka ia akan merasa bebas dalam menyikapi kenikmatan dan kepedihan yang ia rasakan. Yang tentu saja akan sangat berbeda jauh dengan seseorang yang memandang kehidupan di dunia ini hanyalah sebentar saja. Dimana dirinya menyakini adanya kehidupan yang jauh lebih utama dari kehidupan di dunia ini, yaitu : Kampung Akhirat. Tempat berpulangnya semua manusia dalam rangka mempertanggung jawabkan segala perbuatan yang telah ia lakukan di dunia dihadapan Allah swt. Sehingga dalam menyikapi setiap kenikmatan dan kesedihan yang datang, orang tersebut senantiasa berhati – hati dalam merespon hal tersebut.

Sebagai seseorang muslim, kita mengetahui jika setiap segala sesuatu yang datang ke dalam kehidupan kita, semuanya berasal dari Allah swt. Baik dalam bentuk kenikmatan dan kepedihan. Untuk kepedihan, bukannya Allah berfirman dalam surah Al Balad ayat 4 dan Surah Al Baqarah ayat 155:
“Sesungguhnya, kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah.”   (Q.S 90; 4)
“Dan kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah – buahan. Dan sampaikanlah hal gembira kepada orang – orang yang bersabar.” (Q.S 2; 155)
Ayat – ayat ini menjelaskan jika kepedihan, kesusahan, dan penderitaan adalah bagian dari kehidupan itu sendiri. Bukankah kita sendiri lahir dan tumbuh besar ke dunia dari susah payahnya seorang ibu dalam mengandung, melahirkan, dan merawat kita ? Ini adalah contoh nyata bagaimana seorang ibu menyikapi penderitaan, kepedihan dan kesusahannya. Sebagai seorang muslim sudah seharusnya mengutamakan sabar dan shalat dalam menghadapi kepedihan yang datang kepada kita seraya melakukan intropeksi diri atas perbuatan – perbuatan yang sudah kita lakukan.  Hal ini sesuai dengan firman Allah yang terdapat pada Al –Qur’an di surah Al Baqarah ayat 153  yang menerangkan bagaimana sikap seorang muslim dalam menghadapi kepedihan dalam hidupnya :
“Wahai orang - orang yang beriman ! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. Sungguh, Allah beserta orang – orang yang sabar.” (Q.S 2;153)
Sekarang tinggalah 1 pertanyaan, bagaimana seharusnya sikap seseorang dalam mendapatkan kenikmatan ? Sesungguhnya kehidupan akhirat jauh lebih baik daripada kehidupan dunia, termasuk dalam hal kenikmatan. Maka dari itu, Allah memerintahkan kita untuk berlomba lomba dalam mencari kebaikan. Pada kenyataannya, seringkali kita menjumpai 2 kondisi ekstrim. Sering kita temui, orang yang sangat mencintai dunia dan takut mati, sibuk dengan mencari harta kekayaan dan kekuasaan tanpa sempat mencari bekal untuk kehidupan akhirat. Sebaliknya, kita juga sering menjumpai, ada orang yang sangat tekun beribadah tetapi sayangnya ia lalai dalam membina hubungan dengan manusia lainnya bahkan tak jarang lalai dalam menghidupi keluarganya. Kembali merujuk kepada Al – Qur’an pada surah Al Qasas ayat 77 :
“Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugrahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan.” (Q.S. 28 :77)
Pada ayat ini menerangkan jika Allah memerintahkan kita untuk mencari apa yang dianugrahkan Allah untuk menggapai kebahagiaan di negeri akhirat. Jadikan kenikmatan yang kita dapatkan, entah berupa kekayaan, kekuasaan, atau apapun yang berguna untuk manusia untuk menggapai keridhaan Allah swt. Selain itu, manusia diminta untuk tidak melupakan bagian dari kenikmatan di dunia. Kenikmatan dunia itu tak lain adalah sesuatu yang halal. Bersemangatlah dalam mencari kenikmatan yang halal dan gunakanlah sekedar untuk mencukupi penghidupan dan sesuai porsinya. Dan jangan lupa untuk senantiasa bersyukur atas kenikmatan yang Allah berikan seraya waspada agar diri tak terlena dengan kenikmatan sehingga lupa pada Allah swt.
Kenikmatan  dan kepedihan yang datang dalam kehidupan senantiasa membawa pelajaran ataupun hikmah bagi yang mengalaminya. Tiada satupun orang yang tahu apakah kenikmatan yang datang itu merupakan suatu anugrah atau musibah bagi dirinya. Dan juga sebaliknya, tiada satupun orang yang tahu apakah kepedihan yang dirasakan merupakan anugrah atau musibah bagi dirinya. Sudah seharusnya kita mengembalikan semua yang terjadi kepada yang Maha Memiliki Kehidupan kita, Allah swt.


Firman Tuhan dan Nasehat dalam Menyikapi Kenikmatan



Bismillahirrahmanirrahim
“Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugrahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan.” (Q.S. Al-Qasas :77)
“maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya,” (Q.S ‘Abasa :24)
“Sesungguhnya Allah swt benar – benar ridha kepada hamba; bila ia makan makanan lalu memujiNya atas hal itu dan minum minuman lalu memujiNya atas hal itu.” (H.R. Muslim)
“Tidaklah suatu makanan disajikan kepadamu melainkan didalamnya ada 360 nikmat.” (Syarhul Mumti’ 1/100)
Alhamdulillahirabbilalamin

Jumat, 20 Maret 2015

TUGAS RESUME JURNAL : AKUNTANSI, AGAMA , DAN TUHAN



Akuntansi bukanlah sekedar alat semata dalam rangka menyajikan laporan keuangan perusahaan. Akuntansi juga bukan sekedar ilmu aplikasi yang mengajarkan keterampilan dalam memberikan informasi keuangan dalam bentuk laporan keuangan. Diatas semua itu, Akuntansi adalah keyakinan, ataupun dogma yang membawa nilai – nilai tertentu.  Akuntansi mampu membawa nilai – nilai tersebut dan mengembangkannya dalam sistem perekonomian.
Permasalahannnya saat ini adalah adanya penyusupan nilai –nilai tertentu kedalam Akuntansi yang memberikan dampak negatif dalam sistem perekonomian saat ini. Yaitu penyusupan pemikiran kaum kapitalisme kedalam akuntansi kita. Apabila kita melihat dan mempelajari kembali sistem dan metode dalam akuntansi, maka kita akan menyadari jika sistem dan metode – metode tersebut hanya memberikan keuntungan kepada golongan tertentu, terutama golongan pemilik modal. Hal inilah yang mengindikasikan adanya penyusupan pemikiran kaum kapitalisme kepada akuntansi yang kita gunakan.
            Kapitalisme sendiri, merupakan hasil pemikiran yang lahir dari penyimpangan atau penyalah gunaan  nilai atau semangat dalam agama  Protestan. Hal ini bermula pada saat kaum protestan menyadari jika Tuhan sudah menetapkan takdir baik maupun buruk pada seseorang sejak awal. Tentu saja ini, membangkitkan keinginan tahuan masyarakat  Protestan mengenai pesyaratan orang –orang yang dikategorikan ‘terselamatkan’. Salah satu cabang Protestan, Calvanisme, melihat kesuksesan dunia sebagai salah satu syarat dalam kategori tersebut. Oleh karena itu, munculnya semangat dalam mencari kekayaan sebanyak – banyaknya guna menjadi orang – orang yang dikategorikan “terselamatkan”. Tetapi pada masa selanjutnya, spirit mencari kekayaan sebanyak –banyaknya ini, tidak lagi beringinan dengan nilai – nilai yang terkandung dalam agama Protestan. Sehingga yang tertinggal, adalah semangat mengeksploitasi sesama manusia dan alam untuk memperkaya diri. Semangat inilah yang digunakan oleh bangsa barat dalam merumuskan sistem perekonomiannya, yang sayangnya juga mereka terapkan pada saat menjajah negeri lain, termasuk Indonesia.
Ada keyakinan yang tinggi pada masyarakat barat jika mereka adalah pusat dari kebudayaan. Sehingga munculnya  presepsi dimana masyarakat timur yang dipandang ‘primitif’  haruslah mengikuti kebudayaan barat agar dipandang ‘beradab’ dan ‘modern’. Yang tentu saja, ini adalah sebuah kesalahan fatal. Setiap negeri memiliki budaya, yang pastinya membawa nilai – nilai luhurnya masing – masing. ‘Pemaksaan’ budaya barat ini akan menghilangkan nilai – nilai luhur tesebut, dan menjadikan budaya lokal hanyalah sekedar rutinitas saja.
Kembali lagi pada pengertian akuntansi sebagai keyakinan yang membawa nilai – nilai tertentu. Pada saat ini telah muncul sebuah keyakinan baru dalam akuntansi. Yaitu keyakinan yang mementingkan diri sendiri. Tentu saja ini merupakan salah satu bentuk ‘keyakinan’ yang muncul dari paham yang mirip atau bisa dianggap sebagai turunan dari kapitalisme, yaitu neoliberalisme. Hal ini dikarenakan adanya dasar tujuan yang sama, guna memperkaya diri dengan meningkatkan keuntungan sebanyak – banyaknya.
Tentu saja, bentuk ‘keyakinan’ ini haruslah dilawan, karena bisa membawa masyarakat kepada tingkat kerusakan yang parah. Tidak hanya pada tingkat ekonomi saja, tapi juga pada norma dan moral masyarakat, serta juga pada tingkatan alam. Maka dari itu, seharusnya kita mengembalikan lagi nilai –nilai luhur dari budaya lokal, bahkan yang lebih penting adalah nilai – nilai ketuhanan dalam diri kita. Nilai – nilai inilah yang seharusnya disisipkan pada sistem akuntansi . Bukannya ‘memaksakan’ nilai – nilai Barat agar terlihat lebih modern dan beradab dalam pandangan mereka.

Selasa, 17 Maret 2015

BALADA SI KAYA YANG SEBENARNYA MISKIN



Indonesia adalah negara yang  kaya akan sumber daya alam sekaligus sumber daya manusia. Indonesia memiliki tambang emas, dengan kualitas terbaik ditanah Papua. Indonesia juga memiliki cadangan gas alam terbesar di bawah laut dan pulau Natuna. Indonesia memiliki hutan tropis terbesar dengan luas 39.549.447 hektar lengkap disertai keanekaragaman hayati dan beragam faunanya. Indonesia memiliki lautan yang luas serta dikelilingi 2 samudra. Indonesia memiliki peringkat keempat  dunia atas jumlah penduduknya yang terdiri dari ribuan suku dan budayanya. Tanahnya subur disertai pemandangan yang eksotis bak surga yang diturunkan ke muka bumi. Dari tingginya gunung hingga dalamnya lautan, Indonesia memilikinya. Seharusnya dengan kekayaan alam serta manusianya, Indonesia merupakan negara maju dan menjadi ikon bagi negara disekitarnya, setidaknya di Asia Tenggara. Tapi sayangnya, kenyataan tak seindah mimpi.
Pada tahun 2014, jumlah penduduk yang hidup dibawah garis kemiskinan di Indonesia mencapai 28 juta jiwa. Pada tahun yang sama, jumlah anak yang mesti putus sekolah 7,39 juta jiwa. Jumlah pengangguran di Indonesia mencapai 7,24 juta jiwa.  Selain itu, kasus korupsi pada semester I pada tahun 2014 sudah mencapai 308 kasus, belum ditambah jumlah pada semester kedua. Dan masih banyak lagi deretan angka dan fakta yang membuat kita tercengang dan menggeleng tidak peracaya. Dengan semua fakta diatas, memunculkan pertanyaan - pertanyaan : Adakah yang salah dengan negeri ini ?  Mengapa negara sekaya dan sebesar Indonesia, penduduknya masih banyak yang mengalami kemiskinan?
Kemiskinan dan kekayaan. Ibarat dua sisi mata uang, kedua kata ini selalu terkait dan tak bisa dipisahkan. Kedua kata yang mempunyai pengertian yang berlawanan ini, selalu beriringan. Apabila kita membicarakan kemiskinan maka ada pembicaraan tentang kekayaan. Begitu juga sebaliknya. Untuk definisi dari kata kemiskinan dan kekayaan, setiap orang memiliki definisinya masing – masing. Setiap definisi terbentuk dari bagaimana orang tersebut memandang atau melihat kemiskinan dan kekayaan dari sudut pandang tertentu. Contohnya, apabila dilihat dari segi materi, maka kekayaan adalah kondisi dimana sesuatu ataupun seseorang  memiliki benda yang lebih dari yang ia butuhkan dan kemiskinan adalah kondisi dimana sesuatu ataupun seseorang tersebut mengalami kekurangan sehingga kebutuhan tak tercukupkan. Jika dihubungkan dengan uang, maka kekayaan adalah dimana seseorang ataupun sesuatu memiliki uang yang sangat banyak dan kemiskinan adalah dimana seseorang ataupun sesuatu tidak memiliki cukup uang atau bahkan tidak punya sama sekali.
Sayangnya, di dalam agama islam, kekayaan dan kemiskinan tidak dilihat dari banyaknya harta ataupun benda yang ia miliki.  Sesuai dengan sabda Rasulullah saw  berikut ini:
Dari Abu Hurairah, Nabi bersabda, “Kekayaan bukanlah banyak harta benda, akan tetapi kekayaan adalah kekayaan hati.” (Hadis riwayat Bukhari Muslim)
Berdasarkan hadist diatas, kita mengetahui jika kekayaan hakiki bukan terletak pada harta yang banyak. Hal ini dikarenakan ada banyak orang  yang Allah melimpahkan banyak harta padanya namun ia tidak merasa cukup dengan pemberian itu. Bahkan ia semakin giat dalam mencari harta tanpa memperdulikan darimana asal harta tersebut. Pada saat itulah, orang tersebut dikatakan miskin, karena ambisinya terhadap harta yang besar.
Dengan demikian dapat disimpulkan jika kekayaan dan kemiskinan pada hakikatnya bersumber dari hati dan jiwa manusia. Apabila hati  selalu merasa cukup dengan pemberian Allah disertai kesungguh - sugguhan dalam mencari rezeki , sesungguhnya kondisi seperti inilah yang dikatakan kaya.
Dari hati dan jiwa yang kaya akan melahirkan sikap dan mental yang kaya. Begitu juga sebaliknya. Hati dan jiwa yang miskin dalam mengingat Tuhannya akan melahirkan sikap dan mental yang miskin pula. Tentu saja ini juga berdampak dalam kemiskinan dalam sudut pandang materil juga.
Kita kembali ke negeri kita yang kaya sekaligus miskin, Indonesia. Mau sebanyak apapun kekayaan yang dimiliki bangsa ini, jika hati dan jiwa masyarakatnya miskin, maka sampai kapanpun negeri ini tak akan bisa menjadi negeri yang maju. Kuncinya adalah intropeksi pada diri kita sendiri. Tanyakan kepada diri kita apakah kita termasuk orang yang memiliki kekayaan hati untuk berkontribusi  atau sebaliknya kemiskinan hati untuk mengingat ilahi ?
Atau mungkin bukan keduanya, karena kita tidak tahu dan menyadari apa yang sebenarnya yang  mengisi hati kita ? hanya anda dan Tuhan yang tahu.