Kehidupan
layaknya sebuah perjalanan. Layaknya sedang berpergian, dalam kehidupan kita
bisa menemukan berbagai macam peristiwa baik yang terjadi pada orang lain
maupun yang dialami oleh diri sendiri. Entah itu senang, maupun sedih. Anugrah
ataupun musibah. Kenikmatan atau kepedihan. Uniknya, setiap orang memiliki cara
tersendiri dalam menyikapi setiap peristiwa yang datang dalam kehidupannya,
baik yang berupa kenikmatan maupun dalam bentuk kepedihan. Misalnya saja, tatkala
kita menjumpai ada orang yang meratapi kesedihan, membelenggukan dirinya kepada
kepedihan yang tak berujung. Sebaliknya, kita juga melihat seseorang yang
mendapatkan kepedihan yang sama besarnya dengan orang sebelumnya, tetapi
menjadikan sholat dan sabar sebagai penolongnya. Berusaha untuk tegar seraya
memohon pertolongan kepada Rabbnya. Brgitu juga dengan kenikmatan. Ada yang
menyikapi kenikmatan yang Allah berikan
kepadanya dengan cara menyalurkan kepada sesuatu yang sia – sia bahkan sesuatu
yang mendatangkan kemurkaan Allah swt. Tetapi ada juga yang menghadapi
kenikmatan itu dengan rasa syukur serta rasa was – was agar tak terlena dengan
kenikmatan tersebut sehingga melupakan Allah swt.
Bagaimana
seseorang menyikapi setiap kenikmatan dan kepedihan yang datang silih berganti
dalam kehidupannya, tergantung seberapa besar pemahaman orang tersebut mengenai
hakikat kehidupan didunia. Apabila ia menganggap kehidupan itu hanyalah
kehidupan di dunia ini saja, maka ia akan merasa bebas dalam menyikapi
kenikmatan dan kepedihan yang ia rasakan. Yang tentu saja akan sangat berbeda
jauh dengan seseorang yang memandang kehidupan di dunia ini hanyalah sebentar
saja. Dimana dirinya menyakini adanya kehidupan yang jauh lebih utama dari
kehidupan di dunia ini, yaitu : Kampung Akhirat. Tempat berpulangnya semua
manusia dalam rangka mempertanggung jawabkan segala perbuatan yang telah ia
lakukan di dunia dihadapan Allah swt. Sehingga dalam menyikapi setiap
kenikmatan dan kesedihan yang datang, orang tersebut senantiasa berhati – hati
dalam merespon hal tersebut.
Sebagai
seseorang muslim, kita mengetahui jika setiap segala sesuatu yang datang ke
dalam kehidupan kita, semuanya berasal dari Allah swt. Baik dalam bentuk
kenikmatan dan kepedihan. Untuk kepedihan, bukannya Allah berfirman dalam surah
Al Balad ayat 4 dan Surah Al Baqarah ayat 155:
“Sesungguhnya,
kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah.” (Q.S
90; 4)
“Dan
kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan
harta, jiwa dan buah – buahan. Dan sampaikanlah hal gembira kepada orang –
orang yang bersabar.” (Q.S 2; 155)
Ayat
– ayat ini menjelaskan jika kepedihan, kesusahan, dan penderitaan adalah bagian
dari kehidupan itu sendiri. Bukankah kita sendiri lahir dan tumbuh besar ke
dunia dari susah payahnya seorang ibu dalam mengandung, melahirkan, dan merawat
kita ? Ini adalah contoh nyata bagaimana seorang ibu menyikapi penderitaan,
kepedihan dan kesusahannya. Sebagai seorang muslim sudah seharusnya
mengutamakan sabar dan shalat dalam menghadapi kepedihan yang datang kepada kita
seraya melakukan intropeksi diri atas perbuatan – perbuatan yang sudah kita
lakukan. Hal ini sesuai dengan firman
Allah yang terdapat pada Al –Qur’an di surah Al Baqarah ayat 153 yang menerangkan bagaimana sikap seorang
muslim dalam menghadapi kepedihan dalam hidupnya :
“Wahai
orang - orang yang beriman ! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar
dan shalat. Sungguh, Allah beserta orang – orang yang sabar.” (Q.S 2;153)
Sekarang
tinggalah 1 pertanyaan, bagaimana seharusnya sikap seseorang dalam mendapatkan
kenikmatan ? Sesungguhnya kehidupan akhirat jauh lebih baik daripada kehidupan
dunia, termasuk dalam hal kenikmatan. Maka dari itu, Allah memerintahkan kita
untuk berlomba lomba dalam mencari kebaikan. Pada kenyataannya, seringkali kita
menjumpai 2 kondisi ekstrim. Sering kita temui, orang yang sangat mencintai
dunia dan takut mati, sibuk dengan mencari harta kekayaan dan kekuasaan tanpa
sempat mencari bekal untuk kehidupan akhirat. Sebaliknya, kita juga sering
menjumpai, ada orang yang sangat tekun beribadah tetapi sayangnya ia lalai
dalam membina hubungan dengan manusia lainnya bahkan tak jarang lalai dalam
menghidupi keluarganya. Kembali merujuk kepada Al – Qur’an pada surah Al Qasas
ayat 77 :
“Dan
carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugrahkan Allah
kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia dan berbuat baiklah
(kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan
janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sungguh, Allah tidak menyukai orang
yang berbuat kerusakan.” (Q.S. 28 :77)
Pada
ayat ini menerangkan jika Allah memerintahkan kita untuk mencari apa yang
dianugrahkan Allah untuk menggapai kebahagiaan di negeri akhirat. Jadikan
kenikmatan yang kita dapatkan, entah berupa kekayaan, kekuasaan, atau apapun
yang berguna untuk manusia untuk menggapai keridhaan Allah swt. Selain itu,
manusia diminta untuk tidak melupakan bagian dari kenikmatan di dunia.
Kenikmatan dunia itu tak lain adalah sesuatu yang halal. Bersemangatlah dalam
mencari kenikmatan yang halal dan gunakanlah sekedar untuk mencukupi
penghidupan dan sesuai porsinya. Dan jangan lupa untuk senantiasa bersyukur
atas kenikmatan yang Allah berikan seraya waspada agar diri tak terlena dengan
kenikmatan sehingga lupa pada Allah swt.
Kenikmatan dan kepedihan yang datang dalam kehidupan
senantiasa membawa pelajaran ataupun hikmah bagi yang mengalaminya. Tiada
satupun orang yang tahu apakah kenikmatan yang datang itu merupakan suatu
anugrah atau musibah bagi dirinya. Dan juga sebaliknya, tiada satupun orang
yang tahu apakah kepedihan yang dirasakan merupakan anugrah atau musibah bagi
dirinya. Sudah seharusnya kita mengembalikan semua yang terjadi kepada yang
Maha Memiliki Kehidupan kita, Allah swt.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar