Pada
dasarnya manusia menyukai sesuatu yang indah – indah, serta yang baik – baik.
Tak ada satupun manusia yang mengharapkan sesuatu yang buruk masuk kedalam
kehidupan mereka. Bahkan untuk mendekati sesuatu yang buruk saja manusia
enggan. Memang benar, manusisa adalah makhluk yang menyukai keindahan dan
menolak keburukan. Walau sayangnya, masih saja ada sebagian manusia yang
merelakan diri menjadi hamba Tuhan yang buruk demi keindahan dunia yang
sementara.
Keburukkan
dan keindahan seringkali diartikan dan ditujukan kepada sesuatu yang terbatas.
Sesuatu yang mempunyai tampilan lahirnya atau wujudnya saja. Sesuatu yang hanya
bisa dilihat dari kedua mata kita.
Apabila ia elok dipandang mata, tampilan yang bagus dan menimbulkan rasa
senang didalam hati, itulah keindahan. Sebaliknya apabila ia tidak enak
dipandang mata, tampilan yang jelek serta menimbulkan rasa gelisah didalam hati
manusia, pastilah itu keburukkan.
Apabila
penggunaan kata keindahan dan keburukan, maka akan ditemukan berbagai macam
rupa keindahan dan keburukkan disekeliling kita. Sebut saja keindahan dalam
berakhlak, keindahan hati, begitu juga keburukkan dalam bersikap serta buruknya
hati. Maksud dari hati yang disebut, bukanlah organ hati dalam proses
pencernaan. Melainkan hati berupa jiwa manusia.
Apabila
didefinisikan maka hati adalah sesuatu yang abstrak dan sesuatu yang tak mudah
dalam mengukurnya. Hati adalah elemen penting dalam diri manusia, sesuai dengan
sabda Rasulullah saw :
"Ketahuilah
sesungguhnya di dalam tubuh manusia ada segumpal darah, apabila dia baik maka
baiklah seluruh tubuhnya, dan apabila
dia rusak, maka rusaklah seluruh tubuhnya. Ketahuilah bahwa segumpal darah itu
ialah hati." (H.R Bukhari dan Muslim)
Begitu
pentingnya hati dalam mempengaruhi tubuh manusia, tapi sayangnya manusia sering
lalai dalam menjaga keindahan hati mereka. Manusia yang condong mencintai dunia
dan takut mati, lebih senang menjaga keindahan paras wajah serta tubuh, pakaian
– pakaian mereka, serta harta benda mereka miliki. Tak jarang mereka lalai dalam
menjaga hati. Sehingga hatinya menjadi buruk rupanya karena dipenuhi dengan
hasad, dengki, culas, boros, dan dendam. Tak jarang dari hati yang buruk ini,
lahirlah sikap – sikap yang menyimpang bahkan mendatangkan musibah bagi dirinya
dan orang lain. Berbuat zalim, berlaku curang, dan mengingkari nikmat tuhan,
mmenjadi cerminan nyata dari keburukan
yang bercokol di dalam hati.
Sebaliknya
manusia yang memilih jalan akhirat sebagai rumahnya, akan selalu berusaha dalam
menjaga hati mereka. Karena mereka tahu, jika Allah tak akan melihat dari keindahan paras wajah
serta banyaknya harta yang ditinggalkan. Allah melihat mereka melalui hati –
hati mereka. Hanya hati yang bersih dan indah rupanya, terbebas dari
kemusyrikkan, kekufuran, dan keingkaran sajalah, yang mampu menyelamatkan
manusia dari siksa api neraka. Refleksi dari keindahan hati ini adalah
keindahan dalam berakhlak serta bertutur kata.
Keindahan
dan keburukkan hati, manusia itu sendiri yang menentukkan. Itu kembali kepada
tujuan hidup manusia itu semula. Apakah ia menjadikan dunia sebagai tempat
berpulang atau menjadikan kampung akhirat sebagai rumahnya, akan menentukkan
cara berpikirnya, dan bagaimana caranya bertindak. Yang tentu saja semua itu
akan kembali berimbas kepada hatinya.
Kembali
lagi pada diri kita, sudahkah kita menjaga hati
kita agar senantiasa bersih dan indah untuk dipandang. Jangan sampai
umur sudah diujung hayat, barulah kita menyadari untuk membersihkan dan
memperindah hati kita. Jangan sampai kita bertemu dengan Allah, Rabb kita,
dengan hati yang penuh dengan keburukkan. Teruslah berdoa dan berikhtiar agar
hati senantiasa terjaga kepada Allah.
Karena sesungguhnya hanyalah Dia, yang mampu menggenggam serta membolak balikkan hati untuk condong kepada
kebaikan dan keburukkan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar