Senin, 29 Juni 2015

KETIKA KEINDAHAN DAN KEBURUKKAN ADALAH HASIL DARI SEBUAH PILIHAN


Pada dasarnya manusia menyukai sesuatu yang indah – indah, serta yang baik – baik. Tak ada satupun manusia yang mengharapkan sesuatu yang buruk masuk kedalam kehidupan mereka. Bahkan untuk mendekati sesuatu yang buruk saja manusia enggan. Memang benar, manusisa adalah makhluk yang menyukai keindahan dan menolak keburukan. Walau sayangnya, masih saja ada sebagian manusia yang merelakan diri menjadi hamba Tuhan yang buruk demi keindahan dunia yang sementara.
Keburukkan dan keindahan seringkali diartikan dan ditujukan kepada sesuatu yang terbatas. Sesuatu yang mempunyai tampilan lahirnya atau wujudnya saja. Sesuatu yang hanya bisa dilihat dari kedua mata kita.  Apabila ia elok dipandang mata, tampilan yang bagus dan menimbulkan rasa senang didalam hati, itulah keindahan. Sebaliknya apabila ia tidak enak dipandang mata, tampilan yang jelek serta menimbulkan rasa gelisah didalam hati manusia, pastilah itu keburukkan.
Apabila penggunaan kata keindahan dan keburukan, maka akan ditemukan berbagai macam rupa keindahan dan keburukkan disekeliling kita. Sebut saja keindahan dalam berakhlak, keindahan hati, begitu juga keburukkan dalam bersikap serta buruknya hati. Maksud dari hati yang disebut, bukanlah organ hati dalam proses pencernaan. Melainkan hati berupa jiwa manusia.
Apabila didefinisikan maka hati adalah sesuatu yang abstrak dan sesuatu yang tak mudah dalam mengukurnya. Hati adalah elemen penting dalam diri manusia, sesuai dengan sabda Rasulullah saw :
"Ketahuilah sesungguhnya di dalam tubuh manusia ada segumpal darah, apabila dia baik maka baiklah seluruh  tubuhnya, dan apabila dia rusak, maka rusaklah seluruh tubuhnya. Ketahuilah bahwa segumpal darah itu ialah hati." (H.R Bukhari dan Muslim)

Begitu pentingnya hati dalam mempengaruhi tubuh manusia, tapi sayangnya manusia sering lalai dalam menjaga keindahan hati mereka. Manusia yang condong mencintai dunia dan takut mati, lebih senang menjaga keindahan paras wajah serta tubuh, pakaian – pakaian mereka, serta harta benda mereka miliki. Tak jarang mereka lalai dalam menjaga hati. Sehingga hatinya menjadi buruk rupanya karena dipenuhi dengan hasad, dengki, culas, boros, dan dendam. Tak jarang dari hati yang buruk ini, lahirlah sikap – sikap yang menyimpang bahkan mendatangkan musibah bagi dirinya dan orang lain. Berbuat zalim, berlaku curang, dan mengingkari nikmat tuhan, mmenjadi  cerminan nyata dari keburukan yang bercokol di dalam hati.
Sebaliknya manusia yang memilih jalan akhirat sebagai rumahnya, akan selalu berusaha dalam menjaga hati mereka. Karena mereka tahu, jika Allah  tak akan melihat dari keindahan paras wajah serta banyaknya harta yang ditinggalkan. Allah melihat mereka melalui hati – hati mereka. Hanya hati yang bersih dan indah rupanya, terbebas dari kemusyrikkan, kekufuran, dan keingkaran sajalah, yang mampu menyelamatkan manusia dari siksa api neraka. Refleksi dari keindahan hati ini adalah keindahan dalam berakhlak serta bertutur kata.
Keindahan dan keburukkan hati, manusia itu sendiri yang menentukkan. Itu kembali kepada tujuan hidup manusia itu semula. Apakah ia menjadikan dunia sebagai tempat berpulang atau menjadikan kampung akhirat sebagai rumahnya, akan menentukkan cara berpikirnya, dan bagaimana caranya bertindak. Yang tentu saja semua itu akan kembali berimbas kepada hatinya.

Kembali lagi pada diri kita, sudahkah kita menjaga hati  kita agar senantiasa bersih dan indah untuk dipandang. Jangan sampai umur sudah diujung hayat, barulah kita menyadari untuk membersihkan dan memperindah hati kita. Jangan sampai kita bertemu dengan Allah, Rabb kita, dengan hati yang penuh dengan keburukkan. Teruslah berdoa dan berikhtiar agar hati  senantiasa terjaga kepada Allah. Karena sesungguhnya hanyalah Dia, yang mampu menggenggam serta  membolak balikkan hati untuk condong kepada kebaikan dan keburukkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar