Senin, 28 September 2015

Bait Demi Bait


bunga ditaman Kota Singkawang

Lihatlah , bulan bersinar cantik.
Begitu juga kau, sayang...
Engkau bersinar dengan segala pesonamu.
Bahkan melebihi pancaran sinar bulan itu sendiri.

Lihatlah pula bintang itu.
Bintang itu berkedip – kedip seakan merayu.
Begitu pula engkau , cinta...
Merayu, menggodaku untuk selalu becengkrama dengan mu.

Ah, andai aku dapat terbang berlalu bersama angin.
Aku ingin ketempatmu, ingin melihatmu.
Aku ingin bersamamu.. 
selamanya.

***


Lidahku kelu
Saat ingin menyebut namamu
Disaat rindu mengembang
Memenuhi udara yang kuhirup

Terpangkasnya akal sehat
Mata nanar menatap hampa
Kuterjatuh
Dalam Lubang tanpa dasar dan bertepi

Ah, Kau memang hanya bayang
Tapi mampu menjeratku dalam kelam !

***

Menari bersama angin
Melewati rintangan sunyi
Jiwaku merintih ditengah hampa
Mendesah gelisah tak tentu arah

Gerakku kesana kemari
Tanganku melambai
Kakiku tak menyentuh lantai
Aku melayang , tak sadar
Mengikuti gerak tarian jiwa

Irama bersatu dengan tubuh
Seiring, dalamnya luka hati yang kupunya
Aku mendongakkan kepala sambil menari
Sampai kapan hal ini akan berhenti ?
 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar