Rabu, 07 Januari 2015

Membaca Buku

Assalammualaikum
Selamat Pagi semuanya !

Sudah hampir setahun, saya tidak menulis di Blog ini. Jangan kan di Blog ini, menulis di blog saya yang lain saja, saya juga malas. Belum lagi di forum lain seperti kompasiana, kaskus, dll. hampir setahun kegiatan tulis menulis saya tinggalkan untuk fokus kepada penulisan yang lain, yaitu SKRIPSI. (Hmm.. alasan sebenarnya terlalu santai yahh.... ^.^ ) Selain itu saya juga lebih fokus pada perbaikan badan saya (Uhuk, tapi entah mengapa bukannya turun malah naik...?). Walau hasilnya kadang tak sesuai dengan harapan, saya dan juga kawan kawan mesti tetap optimis. FIGHT !!

Lanjut, kali ini saya mau membahas soal MEMBACA ....

Dulu waktu SD, kawan saya, ehem sebut saja namanya si A bertanya kepada saya tentang bidoata saya. (Waktu itu, lagi zaman zaman nya kumpulkan biodata teman. Mulai dari nama lengkap , panggil, ttl, dan seterusnya). Salah satunya adalah HOBI. Dengan bangga nya saya menjawab MEMBACA dan MENULIS. Pada akhirnya saya menyadari, 80% teman dikelas saya, menjawab hal serupa. Padahal niatnya biar dapat dipandang keren ....

Sejujurnya, pada saat itu saya memang suka sekali dengan kegiatan membaca.  Jika ditawari baju keren dengan majalah bobo, mungkin saya akan milih majalah bobo. Sama seperti saat ini, jika ditawari membaca buku Accounting Principles (1031 hal) selama setahun dengan membaca TAIKO karangan Eiji Yoshikawa (kurang lebih 1040 an hal. ) selama 4 hari, tentu saja saya lebih memilih TAIKO.

Membaca buku membuat imajinasi saya selalu bekerja. bahkan saya merasa buku adalah pengganti televisi bagi saya. contohnya saja jika saya lagi pengen menonton sinetron atau pun telenovela, saya tidak mesti buka televisi lalu menonton muka aktris dan aktornya di zoom in dan cerita yang bertele tele. saya hanya perlu ke  perpusda, meminjam teenlit ataupun novel karangan Mira w. Kadang kadang sehabis membaca, pikiran saya melayang - layang , membayangkan beberapa cuplikan di Novel. perasaan saya melambung dan terhanyut dalam cerita. memang benar, apa yang kita baca akan membentuk pola pikir kita dan bahkan tingkah laku kita. Contohnya saja membaca buku buku Agama karangan Amru Khalid, "Ibadah sepenuh hati", mampu membuat diri kita bertekad untuk beribadah lebih baik dengan niat semata - mata hanya karna Allah. Atau pun membaca Rich Dad, Poor Dad karangan Robert T. K. , mampu memotivasi kita untuk menjadi pengusaha.

Tetapi, sayang seribu sayang....
Kegiatan membaca buku, semakin hari semakin lama semakin menghilang. Digempur oleh berbagai macam teknologi canggih, membaca buku menjadi sebuah aktivitas yang memberatkan dan merepotkan.

Tersedianya e-book, e-magazine, forum dan sos-med, yang menyediakan berbagai macam informasi dari A - Z, membuat banyak orang ketagihan ( Termasuk saya ).  kemudahan dalam mengakses dan efisiensi waktu, membuat kita tahan berlama - lama untuk membaca segala macam jenis tulisan yang ada di dunia maya. Dari cerita, mitos, Ilmu pengetahuan,  Agama, bahkan tugas Kuliah yang susah nan ngejelimet tersedia di sana. jadi jangan heran jika ada istilah "Mbah Google". istilah ini merujuk pada search engine terkenal, yaitu Google, yang mampu memberikan informasi yang diinginkan user dalam waktu singkat hanya dengan beberapa kata kunci. Ditambah lagi, kita tidak mesti membawa buku yang berat - berat ( Ini biasanya buku Mata Kuliah), hanya perlu mendownload e-booknya dan menyimpan nya di laptop. Bagaimana kalau mau membaca Al-Qur'an ? OH TENANG , sudah ada aplikasinya Al-Quran dengan terjemahannya, bahkan ada mp3 langsung. Sungguh sangat Praktis !

Lalu bagaimana dengan Buku ?
Bagaimana dengan Nasibnya kini ?

Sebelum saya menjelaskan lebih jauh, saya ingin mengingatkan anda tentang sebuah benda yang bernama LILIN. Ketika Thomas Alfa Edison menemukan bohlam lampu, semua orang memprediksikan industri lilin akan mati. Tapi apa yang terjadi ?

Penggunaan lilin masih ada sampai sekarang. Apalagi di Pontianak, yang kadang pemadaman listrik bisa sampai 4 x dalam seminggu bahkan lebih (terutama kalo mau dekat puasa dan lebaran). Lilin masih digunakan  walaupun sudah ada lampu charge listrik. Selain itu, penggunaan lilin bukan hanya sebagai barang substitusi saja. tapi mungkin dapat masuk ke kelas yang mewah. contohnya saja Candle Light Dinner, dimana penggunaan lilin bukan sebatas fungsi nya saja untuk menerangi, tetapi sebuah nilai tambah (Added Value) yang memberikan kepuasan tersendiri terhadap pemakainya.

Walaupun pada saat ini keberadaan buku mulai tergantikan, tetap saja pada sebagian orang buku itu tetap tak tergantikan.  Menurut saya, Buku mampu memberikan informasi yang jauh lebih detil  sekaligus komprehensif. Kadang kala, Artikel yang ada dunia maya hanya memberikan informasi yang tidak utuh , cenderung setengah - setengah, dan tidak bisa dipercaya kebenarannya.

Adanya pandangan masyarakat jika orang pintar pasti  suka dengan kegiatan membaca dan mengoleksi buku, menambah nilai tersendiri bagi Buku. Buku menjadi sebuah nilai yang mampu meningkatkan prestise di masyarakat. Peluang ini dilihat penerbit, sehingga mencetak buku dengan cover - cover yang indah dan baik. sehingga fenomena buku hanyalah pajangan semata, bukanlah sesuatu yang baru.

Jadi , apakah membaca buku adalah kebutuhan yang mesti dipenuhi atau sampingan mengisi waktu luang ?

Hanya anda yang bisa menjawabnya .....


Nb :
Menurut saya, hubungan korelasi antara orang yg suka membaca dan mengoleksi buku, adalah orang yang pintar tidak dapat dibenarkan (Karena jika hal itu benar, tentu  saya pasti orang yang jenius sekali ^^ ).



Tidak ada komentar:

Posting Komentar