Selasa, 29 September 2015
Senin, 28 September 2015
Bait Demi Bait
Lihatlah , bulan bersinar cantik.
Begitu juga kau, sayang...
Engkau bersinar dengan segala pesonamu.
Bahkan melebihi pancaran sinar bulan itu sendiri.
Lihatlah pula bintang itu.
Bintang itu berkedip – kedip seakan merayu.
Begitu pula engkau , cinta...
Merayu, menggodaku untuk selalu becengkrama dengan mu.
Ah, andai aku dapat terbang berlalu bersama angin.
Aku ingin ketempatmu, ingin melihatmu.
Aku ingin bersamamu..
selamanya.
***
Lidahku kelu
Saat ingin menyebut namamu
Disaat rindu mengembang
Memenuhi udara yang kuhirup
Terpangkasnya akal sehat
Mata nanar menatap hampa
Kuterjatuh
Dalam Lubang tanpa dasar dan
bertepi
Ah, Kau memang hanya bayang
Tapi mampu menjeratku dalam kelam
!
***
Menari bersama angin
Melewati rintangan sunyi
Jiwaku merintih ditengah hampa
Mendesah gelisah tak tentu arah
Gerakku kesana kemari
Tanganku melambai
Kakiku tak menyentuh lantai
Aku melayang , tak sadar
Mengikuti gerak tarian jiwa
Irama bersatu dengan tubuh
Seiring, dalamnya luka hati yang kupunya
Aku mendongakkan kepala sambil menari
Sampai kapan hal ini akan berhenti ?
Selasa, 22 September 2015
Dialog Imajiner "SAMA-SAMA"
Suatu hari, H-1 menjelang wisuda. Saat gladi bersih di Gedung
Auditorium ...
Pria (P): Assalammualaikum, Apa kabar ?
Wanita (W): Wa'alaikumsalam, alhamdulillah baik. kamu gimana
?
P : Baik juga. Alhamdulillah kita udah lulus sarjana. gak
nyangka punya titel juga..
W : Iya. Udah 4 tahun kita sama sama kuliah kemudian sidang.
dan sekarang kita sama – sama Wisuda.
P : Iya yah, besok kita sama – sama wisuda. Sama – sama pake
baju Toga. Sama – sama ke panggung. Mm.. Tapi
kapan kamu mau kita sama – sama
ke pelaminan ?
W : //>.<//
kaget *. Lalu jawab ,” sesudah kamu sama – sama keluarga kamu datang kerumah ku
untuk ngelamar aku. Abis itu kita sama –
sama ke penghulu buat akad nikah. Baru deh kita sama – sama ke pelaminan.
| Fakultas Ekonomi Universitas Tanjungpura |
Senin, 29 Juni 2015
KETIKA KEINDAHAN DAN KEBURUKKAN ADALAH HASIL DARI SEBUAH PILIHAN
Pada
dasarnya manusia menyukai sesuatu yang indah – indah, serta yang baik – baik.
Tak ada satupun manusia yang mengharapkan sesuatu yang buruk masuk kedalam
kehidupan mereka. Bahkan untuk mendekati sesuatu yang buruk saja manusia
enggan. Memang benar, manusisa adalah makhluk yang menyukai keindahan dan
menolak keburukan. Walau sayangnya, masih saja ada sebagian manusia yang
merelakan diri menjadi hamba Tuhan yang buruk demi keindahan dunia yang
sementara.
Keburukkan
dan keindahan seringkali diartikan dan ditujukan kepada sesuatu yang terbatas.
Sesuatu yang mempunyai tampilan lahirnya atau wujudnya saja. Sesuatu yang hanya
bisa dilihat dari kedua mata kita.
Apabila ia elok dipandang mata, tampilan yang bagus dan menimbulkan rasa
senang didalam hati, itulah keindahan. Sebaliknya apabila ia tidak enak
dipandang mata, tampilan yang jelek serta menimbulkan rasa gelisah didalam hati
manusia, pastilah itu keburukkan.
Apabila
penggunaan kata keindahan dan keburukan, maka akan ditemukan berbagai macam
rupa keindahan dan keburukkan disekeliling kita. Sebut saja keindahan dalam
berakhlak, keindahan hati, begitu juga keburukkan dalam bersikap serta buruknya
hati. Maksud dari hati yang disebut, bukanlah organ hati dalam proses
pencernaan. Melainkan hati berupa jiwa manusia.
Apabila
didefinisikan maka hati adalah sesuatu yang abstrak dan sesuatu yang tak mudah
dalam mengukurnya. Hati adalah elemen penting dalam diri manusia, sesuai dengan
sabda Rasulullah saw :
"Ketahuilah
sesungguhnya di dalam tubuh manusia ada segumpal darah, apabila dia baik maka
baiklah seluruh tubuhnya, dan apabila
dia rusak, maka rusaklah seluruh tubuhnya. Ketahuilah bahwa segumpal darah itu
ialah hati." (H.R Bukhari dan Muslim)
Begitu
pentingnya hati dalam mempengaruhi tubuh manusia, tapi sayangnya manusia sering
lalai dalam menjaga keindahan hati mereka. Manusia yang condong mencintai dunia
dan takut mati, lebih senang menjaga keindahan paras wajah serta tubuh, pakaian
– pakaian mereka, serta harta benda mereka miliki. Tak jarang mereka lalai dalam
menjaga hati. Sehingga hatinya menjadi buruk rupanya karena dipenuhi dengan
hasad, dengki, culas, boros, dan dendam. Tak jarang dari hati yang buruk ini,
lahirlah sikap – sikap yang menyimpang bahkan mendatangkan musibah bagi dirinya
dan orang lain. Berbuat zalim, berlaku curang, dan mengingkari nikmat tuhan,
mmenjadi cerminan nyata dari keburukan
yang bercokol di dalam hati.
Sebaliknya
manusia yang memilih jalan akhirat sebagai rumahnya, akan selalu berusaha dalam
menjaga hati mereka. Karena mereka tahu, jika Allah tak akan melihat dari keindahan paras wajah
serta banyaknya harta yang ditinggalkan. Allah melihat mereka melalui hati –
hati mereka. Hanya hati yang bersih dan indah rupanya, terbebas dari
kemusyrikkan, kekufuran, dan keingkaran sajalah, yang mampu menyelamatkan
manusia dari siksa api neraka. Refleksi dari keindahan hati ini adalah
keindahan dalam berakhlak serta bertutur kata.
Keindahan
dan keburukkan hati, manusia itu sendiri yang menentukkan. Itu kembali kepada
tujuan hidup manusia itu semula. Apakah ia menjadikan dunia sebagai tempat
berpulang atau menjadikan kampung akhirat sebagai rumahnya, akan menentukkan
cara berpikirnya, dan bagaimana caranya bertindak. Yang tentu saja semua itu
akan kembali berimbas kepada hatinya.
Kembali
lagi pada diri kita, sudahkah kita menjaga hati
kita agar senantiasa bersih dan indah untuk dipandang. Jangan sampai
umur sudah diujung hayat, barulah kita menyadari untuk membersihkan dan
memperindah hati kita. Jangan sampai kita bertemu dengan Allah, Rabb kita,
dengan hati yang penuh dengan keburukkan. Teruslah berdoa dan berikhtiar agar
hati senantiasa terjaga kepada Allah.
Karena sesungguhnya hanyalah Dia, yang mampu menggenggam serta membolak balikkan hati untuk condong kepada
kebaikan dan keburukkan.
Selasa, 24 Maret 2015
MENYIKAPI KENIKMATAN DAN KEPEDIHAN
Kehidupan
layaknya sebuah perjalanan. Layaknya sedang berpergian, dalam kehidupan kita
bisa menemukan berbagai macam peristiwa baik yang terjadi pada orang lain
maupun yang dialami oleh diri sendiri. Entah itu senang, maupun sedih. Anugrah
ataupun musibah. Kenikmatan atau kepedihan. Uniknya, setiap orang memiliki cara
tersendiri dalam menyikapi setiap peristiwa yang datang dalam kehidupannya,
baik yang berupa kenikmatan maupun dalam bentuk kepedihan. Misalnya saja, tatkala
kita menjumpai ada orang yang meratapi kesedihan, membelenggukan dirinya kepada
kepedihan yang tak berujung. Sebaliknya, kita juga melihat seseorang yang
mendapatkan kepedihan yang sama besarnya dengan orang sebelumnya, tetapi
menjadikan sholat dan sabar sebagai penolongnya. Berusaha untuk tegar seraya
memohon pertolongan kepada Rabbnya. Brgitu juga dengan kenikmatan. Ada yang
menyikapi kenikmatan yang Allah berikan
kepadanya dengan cara menyalurkan kepada sesuatu yang sia – sia bahkan sesuatu
yang mendatangkan kemurkaan Allah swt. Tetapi ada juga yang menghadapi
kenikmatan itu dengan rasa syukur serta rasa was – was agar tak terlena dengan
kenikmatan tersebut sehingga melupakan Allah swt.
Bagaimana
seseorang menyikapi setiap kenikmatan dan kepedihan yang datang silih berganti
dalam kehidupannya, tergantung seberapa besar pemahaman orang tersebut mengenai
hakikat kehidupan didunia. Apabila ia menganggap kehidupan itu hanyalah
kehidupan di dunia ini saja, maka ia akan merasa bebas dalam menyikapi
kenikmatan dan kepedihan yang ia rasakan. Yang tentu saja akan sangat berbeda
jauh dengan seseorang yang memandang kehidupan di dunia ini hanyalah sebentar
saja. Dimana dirinya menyakini adanya kehidupan yang jauh lebih utama dari
kehidupan di dunia ini, yaitu : Kampung Akhirat. Tempat berpulangnya semua
manusia dalam rangka mempertanggung jawabkan segala perbuatan yang telah ia
lakukan di dunia dihadapan Allah swt. Sehingga dalam menyikapi setiap
kenikmatan dan kesedihan yang datang, orang tersebut senantiasa berhati – hati
dalam merespon hal tersebut.
Sebagai
seseorang muslim, kita mengetahui jika setiap segala sesuatu yang datang ke
dalam kehidupan kita, semuanya berasal dari Allah swt. Baik dalam bentuk
kenikmatan dan kepedihan. Untuk kepedihan, bukannya Allah berfirman dalam surah
Al Balad ayat 4 dan Surah Al Baqarah ayat 155:
“Sesungguhnya,
kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah.” (Q.S
90; 4)
“Dan
kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan
harta, jiwa dan buah – buahan. Dan sampaikanlah hal gembira kepada orang –
orang yang bersabar.” (Q.S 2; 155)
Ayat
– ayat ini menjelaskan jika kepedihan, kesusahan, dan penderitaan adalah bagian
dari kehidupan itu sendiri. Bukankah kita sendiri lahir dan tumbuh besar ke
dunia dari susah payahnya seorang ibu dalam mengandung, melahirkan, dan merawat
kita ? Ini adalah contoh nyata bagaimana seorang ibu menyikapi penderitaan,
kepedihan dan kesusahannya. Sebagai seorang muslim sudah seharusnya
mengutamakan sabar dan shalat dalam menghadapi kepedihan yang datang kepada kita
seraya melakukan intropeksi diri atas perbuatan – perbuatan yang sudah kita
lakukan. Hal ini sesuai dengan firman
Allah yang terdapat pada Al –Qur’an di surah Al Baqarah ayat 153 yang menerangkan bagaimana sikap seorang
muslim dalam menghadapi kepedihan dalam hidupnya :
“Wahai
orang - orang yang beriman ! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar
dan shalat. Sungguh, Allah beserta orang – orang yang sabar.” (Q.S 2;153)
Sekarang
tinggalah 1 pertanyaan, bagaimana seharusnya sikap seseorang dalam mendapatkan
kenikmatan ? Sesungguhnya kehidupan akhirat jauh lebih baik daripada kehidupan
dunia, termasuk dalam hal kenikmatan. Maka dari itu, Allah memerintahkan kita
untuk berlomba lomba dalam mencari kebaikan. Pada kenyataannya, seringkali kita
menjumpai 2 kondisi ekstrim. Sering kita temui, orang yang sangat mencintai
dunia dan takut mati, sibuk dengan mencari harta kekayaan dan kekuasaan tanpa
sempat mencari bekal untuk kehidupan akhirat. Sebaliknya, kita juga sering
menjumpai, ada orang yang sangat tekun beribadah tetapi sayangnya ia lalai
dalam membina hubungan dengan manusia lainnya bahkan tak jarang lalai dalam
menghidupi keluarganya. Kembali merujuk kepada Al – Qur’an pada surah Al Qasas
ayat 77 :
“Dan
carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugrahkan Allah
kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia dan berbuat baiklah
(kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan
janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sungguh, Allah tidak menyukai orang
yang berbuat kerusakan.” (Q.S. 28 :77)
Pada
ayat ini menerangkan jika Allah memerintahkan kita untuk mencari apa yang
dianugrahkan Allah untuk menggapai kebahagiaan di negeri akhirat. Jadikan
kenikmatan yang kita dapatkan, entah berupa kekayaan, kekuasaan, atau apapun
yang berguna untuk manusia untuk menggapai keridhaan Allah swt. Selain itu,
manusia diminta untuk tidak melupakan bagian dari kenikmatan di dunia.
Kenikmatan dunia itu tak lain adalah sesuatu yang halal. Bersemangatlah dalam
mencari kenikmatan yang halal dan gunakanlah sekedar untuk mencukupi
penghidupan dan sesuai porsinya. Dan jangan lupa untuk senantiasa bersyukur
atas kenikmatan yang Allah berikan seraya waspada agar diri tak terlena dengan
kenikmatan sehingga lupa pada Allah swt.
Kenikmatan dan kepedihan yang datang dalam kehidupan
senantiasa membawa pelajaran ataupun hikmah bagi yang mengalaminya. Tiada
satupun orang yang tahu apakah kenikmatan yang datang itu merupakan suatu
anugrah atau musibah bagi dirinya. Dan juga sebaliknya, tiada satupun orang
yang tahu apakah kepedihan yang dirasakan merupakan anugrah atau musibah bagi
dirinya. Sudah seharusnya kita mengembalikan semua yang terjadi kepada yang
Maha Memiliki Kehidupan kita, Allah swt.
Langganan:
Postingan (Atom)



