Kamis, 07 Januari 2016
Kejemuan yang Memabukkan dan Menimbulkan Coretan
Malang, Dua Puluh Tiga November Dua Ribu Lima Belas
Janji cinta sejati itu,
Tiada lagi nampak dimatamu
Namun kenapa,
Aku selalu teringat akan wajahmu
dan janji mu waktu itu..
Aku bukanlah Bidadari
Apalagi Malaikat
Aku adalah seorang pendosa
Tak kupungkiri
Ku banyak berbuat salah padamu
menyakiti hatimu dengan kata dan tingkah lakuku
Tapi asal engkau tahu,
Tak pernah ada maksud hati untuk menyakiti
apalagi membenci
dan aku tak pernah kukhianati cinta itu
Kau janjikan cinta aku
Tapi kaulah yang membunuh cinta itu
Dan memilih seorang lain
Seseorang yang lebih dari aku
Seseorang yang memiliki apa yang tak kumiliki
Kau ucapkan maaf dan berlalu pergi
tak sedikit pun menoleh lagi
Hilang sudah cinta itu
Cinta yang hanya sekejap saja berada dihatimu
Meninggalkan aku dengan penuh tanya
Tak Cukupkah Cintaku
Tak Cukupkah Hati Murni Ikhlasku
Tak Cukupkah Keinginan Muliaku
untuk hidup bersamamu dalam tali suci pernikahan
Seketika aku tahu jawabannya
Itu tak akan pernah cukup bagimu
Kau pinta lebih sabarku,
dan maaf ... aku tak sanggup lagi untuk bersabar dengan itu
Walau Matahari membakar dengan panasnya
Walau Badai telah menyapu segalannya
Biar kujalani sisa hukumanku
Biarkan aku
Menderita sesaat karena Cinta
Dan Bahagia selamanya karena Cinta
Pontianak, Enam Belas Januari Dua Ribu Enam Belas
Selasa, 15 Desember 2015
Ini Malam atau Malam ini ?
Adakah yang mengetahui keindahan malam ?
Ketika langit mulai berganti selimut biru dan kegelapan yang
mulai menyergap seiring tenggelamnya sang Surya. Tak
lama kemudian tampak kejora dengan sinar yang paling terang, tergantung disana.
Disusul dengan kelap kelip bintang kecil dan sepotong bulan nan cantik. Itulah malam dan itulah keindahan.
Pernahkah Kita
memperhatikannya ?
Itu dulu, saat kita
masih kecil. Ketika penerangan hanya berupa lampu minyak tanah dan listrik
begitu mahal dan mewah. Kita bermain
dalam keindahan malam. Tak peduli nasehat mamak yang melarang untuk bermain
dimalam hari karena ada kuntilanak yang suka mencullik anak. Kita bermain sambil
memandang langit kelam bermandikan bintang. Sekarang ? Entah sejak kapan
sorotan lampu perkotaan dan gambar hidup dikotak segi empat itu mulai menarik
perhatian kita. apalagi sejak telepon gengam yang semakin pintar membuat mata
kita tak lepas darinya. Kita tak lagi peduli pada langit malam dengan segala
keindahannya. Kita mulai lupa. Atau bahkan kita tak lagi peduli padanya.
Kapan malam ini menjadi Istimewa ?
Malam ini akan menjadi istimewa tatkala ia memasuki dua
pertiganya. Dua pertiga malam merupakan detik detik dimana jarak antara seorang
hamba sahaya yang berdoa sangat dekat dengan Tuhannya. Tiada sekat diantara mereka. Sehingga doa si hamba sahaya
langsung didiengar langsung oleh Tuhannya.
Minggu, 08 November 2015
Yang Berubah
![]() |
| Listening |
Masih teringat perbincangan dengan seorang teman yang sudah dikenal
selama 3 tahun terakhir ini. awalnya, bercanda dan saling mengejek.
maklum dia di pontianak, sedangkan saya di Malang. Akhirnya perbincangan
ini berakhir pada topik tentang saya. Iseng - iseng, saya bertanya adakah perubuhan dalam sifat saya selama 3 tahun berkenalan dengannya ..
Dia menjawab lugas dan singkat : "Jauh beud"saya kontan tertawa dan menunggu penjelasannya.
Dia kemudian menjelaskan lebih lanjut : "Kalo sekarang lebih feminim ,
lebih melankolis. ada masalah sedikit langsung nangis. Padahal dulu
kayaknya kamu tu tegar, malah suka kasih saran ke orang lain. Terus
sekarang bisa lebih jaga sikap. kalo dulu kayaknya cuek. kamu yang dulu
keras, apa lagi kalo menurut kamu itu salah dan gak bener. Sekarang
lebih lembut , gak gampang marah."
... Jujur , sampai di sini,
saya langsung teringat kembali ke masa 2 tahun yang lalu. saat saya
masih merupakan sosok yang keras kepala, cuek, pemarah, tidak terlalu
suka berinteraksi, punya prinsip dan aturan sendiri, bersikap "Loe
jangan ganggu gue, kalo loe gak mau diganggu..", kasar, blak - blakkan,
mudah menggerutu, paling pantang menangis.
Dulu, saya memandang dan memasang mindset jika saya harus jadi manusia
super , bisa apa saja dan segalannya. harus mampu menanggung beban
bahkan melebihi laki - laki. sebuah ambisi dan sebuah obsesi, yang
kadang jika orang lain tau , akan membuat mereka menggeleng - gelengkan
kepala tak percaya pada saya.
Tapi sebuah palu gada menghantam
saya. membuat saya terjatuh dari pijakan. Seketika saya kembali ke tanah
dan menyadari fitrah diri sebagai wanita. Badai menyapu habis isi
kepala saya, prinsip, dan pagar pembatas yang berisi aturan, agar saya
tidak terpengaruh dengan yang lain. Mimpi saya yang selama ini penuh
dengan warna merah dan hitam, menjadi lebih karya warna. Entah, kenapa
disaat saya berada titik paling bawah, saya menemukan bagian diri saya
yang paling indah dan menawan.
Dan pada saat itu saya berdoa
bersungguh - sungguh kepada ALLAH subhanallah wa ta'ala. Doa yang tak
pernah saya pikirkan sebelumnya. Doa yang berbeda dengan doa yang selama
ini saya panjatkan.
Dan inilah diri saya sekarang, dengan
mindset dan prilaku yang berbeda. apa saya puas ? tidak , saya akan
terus mengalami perubahan dan pembelajaran. doakan saja agar perubahan
ini menuju yang lebih baik ^^.
Selasa, 29 September 2015
Senin, 28 September 2015
Bait Demi Bait
Lihatlah , bulan bersinar cantik.
Begitu juga kau, sayang...
Engkau bersinar dengan segala pesonamu.
Bahkan melebihi pancaran sinar bulan itu sendiri.
Lihatlah pula bintang itu.
Bintang itu berkedip – kedip seakan merayu.
Begitu pula engkau , cinta...
Merayu, menggodaku untuk selalu becengkrama dengan mu.
Ah, andai aku dapat terbang berlalu bersama angin.
Aku ingin ketempatmu, ingin melihatmu.
Aku ingin bersamamu..
selamanya.
***
Lidahku kelu
Saat ingin menyebut namamu
Disaat rindu mengembang
Memenuhi udara yang kuhirup
Terpangkasnya akal sehat
Mata nanar menatap hampa
Kuterjatuh
Dalam Lubang tanpa dasar dan
bertepi
Ah, Kau memang hanya bayang
Tapi mampu menjeratku dalam kelam
!
***
Menari bersama angin
Melewati rintangan sunyi
Jiwaku merintih ditengah hampa
Mendesah gelisah tak tentu arah
Gerakku kesana kemari
Tanganku melambai
Kakiku tak menyentuh lantai
Aku melayang , tak sadar
Mengikuti gerak tarian jiwa
Irama bersatu dengan tubuh
Seiring, dalamnya luka hati yang kupunya
Aku mendongakkan kepala sambil menari
Sampai kapan hal ini akan berhenti ?
Selasa, 22 September 2015
Dialog Imajiner "SAMA-SAMA"
Suatu hari, H-1 menjelang wisuda. Saat gladi bersih di Gedung
Auditorium ...
Pria (P): Assalammualaikum, Apa kabar ?
Wanita (W): Wa'alaikumsalam, alhamdulillah baik. kamu gimana
?
P : Baik juga. Alhamdulillah kita udah lulus sarjana. gak
nyangka punya titel juga..
W : Iya. Udah 4 tahun kita sama sama kuliah kemudian sidang.
dan sekarang kita sama – sama Wisuda.
P : Iya yah, besok kita sama – sama wisuda. Sama – sama pake
baju Toga. Sama – sama ke panggung. Mm.. Tapi
kapan kamu mau kita sama – sama
ke pelaminan ?
W : //>.<//
kaget *. Lalu jawab ,” sesudah kamu sama – sama keluarga kamu datang kerumah ku
untuk ngelamar aku. Abis itu kita sama –
sama ke penghulu buat akad nikah. Baru deh kita sama – sama ke pelaminan.
| Fakultas Ekonomi Universitas Tanjungpura |
Langganan:
Postingan (Atom)



